Untuk mempersempit ruang gerak penjahat Polda Jawa Timur memasang ‘mata canggih’ atau CCTV (Close Circuit Television) dan 46 GPS (Global Positioning System) di Jawa Timur.
“CCTV dan GPS itu disebar pada sejumlah titik rawan kemacetan, kecelakaan, dan tindak kejahatan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Jatim Kombes Pol Sam Budigusdian di Surabaya, Kamis.
Dengan demikian, jelasnya, untuk melengkapinya Polda Jatim membuat program Region Traffic Management Centre (RTMC) untuk pusat komando, koordinasi, komunikasi dan informasi (K3I) dalam pemantauan arus lalu lintas dan tindak kriminal.
“Untuk program RTMC itu, kami juga menggunakan delapan unit mobil CCTV yang selalu bergerak memantau situasi, baik kecelakaan, kemacetan, tindak kriminal, maupun unjuk rasa,” katanya.
Senada dengan itu, Kasi STNK Subdit Min Regident Ditlantas Polda Jatim Kompol Budi Mulyanto mengatakan RTMC juga akan memberikan informasi kepada masyarakat melalui jejaring sosial seperti twitter, Facebook, hingga website (laman).
“Masyarakat mau menanyakan situasi arus lalu lintas di Jawa Timur, atau ke daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta bisa menanyakan langsung, karena kami juga dapat memantau situasi di daerah lain,” katanya.
Untuk program RTMC itu, pihaknya telah menyiapkan 45 personel yang telah menjalani pelatihan. Personel yang siaga 24 jam itu dibagi menjadi tiga regu yang masing-masing regu terdiri dari 15 personel.
“CCTV dan GPS itu akan dikendalikan langsung dari Gedung Ditlantas Polda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Kami bisa mengubah arah CCTV tergantung kebutuhan,” katanya.
Saat ini yang sudah terpasang 138 CCTV di Surabaya, Madiun, Sidoarjo, Gresik, Nganjuk, dan beberapa daerah lainnya.
“Jumlah CCTV itu akan terus bertambah. Selain dari internal, kami juga menggandeng siapa saja untuk menyediakan CCTV, misalnya ASDP, PT Jasa Marga, maupun pemerintah setempat,” katanya.
Selain dilengkapi CCTV, juga dilengkapi dengan Geographic Information System (GIS) serta GPS. Untuk GPS itu dipasang ke mobil - mobil patroli.
"Dengan adanya GPS, dapat memantau pergerakan petugas patroli. Sehingga jika terjadi kemacetan atau kecelakaan, maka dapat dilihat petugas mana yang terdekat untuk mendatangi TKP (tempat kejadian perkara)," .
(ris/ANT)






